Minggu, 14 Juni 2015

 MEKARNYA BUNGAN PENCERAHAN




Seorang anak muda bertanya, siapa nama pencari spiritual sebelum beliau terlahir menjadi pangeran Siddharta? Nama beliau adalah Veshantara yang berarti ia yang melepaskan semuanya. Dan benar saat pencari ini bernama Veshantara, beliau bahkan memberikan kekayaan yang paling tidak mungkin untuk diberikan oleh orang mana pun.
Warisan spiritual yang ditinggalkan melalui sejarah ini sederhana, siapa saja yang rindu mendalam untuk pulang ke rumah pencerahan, ingat selalu untuk belajar melepaskan. Kendati belum bisa melepaskan hal-hal yang besar, mulai dulu dengan melepaskan hal-hal kecil.
Memori tentang melepaskan ini juga yang muncul di detik-detik terakhir tatkala pangeran Siddharta mau mengalami pencerahan sempurna. Sebagaimana sudah dicatat rapi sejarah, di detik-detik terakhir beliau mau mengalami pencerahan sempurna, setan Mara datang menggoda dengan segala kekuatannya.
Seorang Guru besar dari Oxford menyimpulkannya secara indah sekali: “tatkala pangeran Siddharta menerima setan Mara sebagai bagian dari dirinya, bukan sesuatu yang terpisah dari dirinya, saat itulah beliau menjadi Buddha”. Dengan kata lain, belajar melepaskan konsep setan-Tuhan. Kemudian istirahat sempurna dalam kesempurnaan saat ini.
Sedihnya, banyak pencari yang tidak bisa keluar dari kepompong kecil dualitas seperti salah-benar, buruk-baik, setan-Tuhan. Sebagai akibatnya, selamanya mereka terguncang kepanasan oleh gelombang penderitaan.

Suatu hari ada seorang pedagang kaya yang memiliki satu putra yang sangat dicintainya. Begitu pulang ke rumah dari pergi jauh, ditemukan rumahnya terbakar habis dibakar perampok. Di salah satu pojokan reruntuhan rumah, ada tumpukan abu yang menyerupai mayat seorang anak. Maka diambil dan disembahlah abu itu seperti menyembah anak kesayangannya.  Sekian tahun kemudian, di sebuah pagi hari anaknya bisa lari dari sekapan perampok, mengetok pintu papanya. Saat anak ini mengetok pintu, ayah tadi segera mengusirnya karena demikian yakin kalau putranya sudah wafat.
Begitulah nasib banyak manusia. Pikiran mereka demikian tertutup oleh dualitas, bahkan saat kebenaran hadir di depan pintu pun tetap pintu pikiran menolak untuk dibuka. Itu sebabnya, di tingkat kesempurnaan meditasi berarti istirahat di saat ini apa adanya.
Melalui pendekatan istirahat ini, apa saja aliran sungai emosi, pikiran, badan, semuanya disaksikan apa adanya. Dalam bahasa Tulku Thondup pada buku “The healing power of mind”: “menerima tanpa menyalahkan, itulah titik balik kesembuhan”. Dan titik balik ini hanya mungkin terjadi saat seseorang keluar dari kepompong dualitas.
Saat jiwa keluar dari kepompong dualitas, di sana terlihat terang benderang, tidak ada apa-apa, hanya aliran-aliran energi yang mengalir sesuai dengan hukum alaminya. Mengalir sempurna dengan sang aliran, itulah bunga pencerahan. Meminjam sebuah warisan spiritual tua dari Tibet, mirip dengan hujan yang turun di samudra. Tidak ada penambahan, tidak ada pengurangan dalam jumlah air
Penulis: Gede Prama
Photo Courtesy: Twitter@brightnewvensa




PESELANCAR BELAS KASIH


Seorang anak muda yang cerdas sekaligus suka bertanya mengajukan pertanyaan lugas seperti ini: “apakah rumah jiwa identik dengan kematian?”. Tentu saja, tapi bukan sembarang kematian melainkan kematian ego dan keakuan. Begitu ego dan keakuan mati, secara alamiah pintu rumah jiwa akan terbuka.
Sedihnya, di zaman ini nyaris semua aktivitas manusia memperbesar ego dan keakuan. Di dunia olah raga, sekolah, penjualan, manusia dipacu dengan hadiah piala dan juara. Bahkan di dunia spiritual pun tidak sedikit manusia yang berpacu untuk disebut lebih begini dan lebih begitu. Hasilnya mudah ditebak. Di satu sisi memang menghadirkan kegembiraan bagi segelintir orang dalam waktu pendek dan sementara, di lain sisi menghadirkan jurang penderitaan bagi banyak orang dalam waktu lama.
Oleh karena itu, di jalan Tantra khususnya, di tingkat-tingkat awal ego dan keakuan ini dihancurkan habis-habisan. Dari cara namaskara yang dilakukan banyak orang, atau cara yang ditempuh Guru Marpa yang memukuli muridnya Milarepa dengan cara yang tidak kebayang sakitnya. Seorang Guru suci bercerita, kalau beliau menyapu dan mengepel setiap hari hanya agar ego dan keakuan terus menerus mengecil.
Di jalan meditasi, ego yang besar disimbolkan dengan seseorang yang hanyut dibawa arus sungai pikiran dan perasaan. Makanya banyak orang jadi berbahaya saat marah dan emosi. Melalui praktik menyaksikan, seseorang belajar berenang ke pinggir. Ada yang menyebutkan kalau psikologi Barat suka menganalisa, makanya disebut psychoanalysis. Sedangkan psikologi Timur menekankan pentingnya kegiatan menyaksikan.
Dalam bahasa praktik kesadaran yang sederhana tapi mendalam, sadari badan sebagai badan bukan sebagai diri Anda. Sadari pikiran sebagai pikiran bukan sebagai diri Anda. Sadari perasaan sebagai perasaan bukan sebagai diri Anda. Sadar bentuk-bentuk pikiran sebagai bentuk-bentuk pikiran bukan sebagai diri Anda. Itu cara berenang ke pinggir.
Siapa saja yang praktik menyaksikannya mendalam, suatu hari bisa berdiri menjadi saksi di pinggir sungai kehidupan. Ciri seseorang yang sudah menjadi saksi sederhana, semua ketakutan termasuk ketakutan akan kematian menghilang sepenuhnya.
Makanya salah satu pesan Milarepa yang dikenal luas berbunyi seperti ini: “death is not death for a yogi, it is a little enlightenment”. Dalam kehidupan para yogi, kematian tidak lagi diikuti oleh ketakutan. Ia hanya aliran kecil kehidupan yang mencerahkan.
Di tingkatan ini, kematian sesederhana daun kering yang jatuh, sesimpel air sungai yang mencium bibir pantai, senatural awan yang jatuh menjadi hujan. Tidak ada ketakutan, kesedihan apa lagi tangisan di sana. Ia hanya proses yang natural dan alami.
Ada yang menyebutkan kebebasan sebagai keadaan tanpa kelahiran dan tanpa kematian. Sebuah sudut pandang yang layak dihormati. Sebagaimana cahaya hanya bisa dimengerti di tengah kegelapan, keadaan tanpa kelahiran dan tanpa  kematian hanya bisa dimengerti dalam siklus kelahiran dan kematian.
Bedanya dengan orang biasa yang lahir karena punya hutang-hutang karma, ia yang sudah terbebaskan lahir ke sini seperti peselancar yang mengendarai papan selancar bernama belas kasih. Kehidupan memang penuh gelombang, tapi jiwa-jiwa terbebaskan ada di sini mengendarai papan belas kasih.
Penulis: Gede Prama
Photo Courtesy: Twitter @ybh4618.

Minggu, 24 Mei 2015



Pancuran Belas Kasih

 
Setiap sahabat yang penggaliannya sudah dalam mengagumkan, memasuki wilayah-wilayah rasa yang sangat halus, suatu hari akan tersenyum penuh pengertian dengan pesan ini: “di balik rasa sakit yang Anda alami dalam waktu lama, tersembunyi rahasia tentang siapa diri Anda”.
Mendengar penjelasan seperti ini, seorang wanita yang bermasalah dengan ibunya kemudian bertanya sambil protes: “apakah orang tua yang menyakiti selama bertahun-tahun juga menyembunyikan rahasia tentang diri saya?”. Ada sedikit hal dalam hidup yang tidak bisa dipilih, salah satunya adalah orang tua. Menyangkut sesuatu yang tidak bisa dipilih, ia memberikan cermin yang lebih jujur lagi.
Sarannya kemudian, hati-hati memaknakan pengalaman hidup yang melukai jiwa. Pemaknaan akan menentukan apakah serangkaian pengalaman bisa membuat jiwa semakin bertumbuh, atau membuat jiwa semakin runtuh. Menyangkut orang tua yang melukai, lebih disarankan untuk menggunakan mereka sebagai cermin kalau jiwa memerlukan pemurnian dan penghalusan.
Bila tidak cocok dengan tetangga, Anda bisa pindah rumah. Jika tidak cocok dengan atasan, Anda bisa pindah pekerjaan. Tapi bila tidak cocok sama ibu, Anda mau lari ke mana?  Karena tidak bisa lari, satu-satunya pilihan yang tersedia adalah menempatkan pengalaman ini sebagai kesempatan untuk menghaluskan jiwa.
Pengalaman serupa juga dialami oleh banyak sahabat yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Setiap hari dan sepanjang hidup jiwa sahabat-sahabat ini dimurnikan dan dihaluskan. Perjumpaan dengan banyak orang tua anak-anak berkebutuhan khusus menunjukkan, di satu sisi beban jiwanya berat, di lain sisi hutang-hutang karmanya pelan perlahan terbayar.
Ada tiga transisi kejiwaan yang dialami oleh orang tua anak-anak berkebutuhan khusus. Transisi pertama dimurnikan oleh rasa sakit. Transisi kedua disempurnakan oleh rasa sakit. Transisi ketiga adalah mengalami keterhubungan spiritual.
Transisi pertama terjadi kalau seseorang tunduk sujud di depan rasa sakit, seperti sujud di depan Guru suci. Transisi kedua terjadi jika para sahabat memperlakukan anak-anak berkebutuhan khusus sebagai kesempatan untuk menyempurnakan cinta. Transisi ketiga dialami saat seseorang mengalami kepasrahan yang total.
Siapa saja yang mengalami tiga transisi kejiwaan ini akan sangat berterimakasih pada rasa sakit. Rasa sakit adalah hadiah spiritual yang sangat indah, yang tidak bisa diberikan oleh Guru suci dan buku suci.
Salah satu masterpiece di abad lalu adalah mahakarya berjudul Sang Nabi yang ditulis oleh pujangga besar Kahlil Gibran. Dan saat maha karya ini ditulis, Gibran sedang mengalami rasa sakit yang mendalam karena cintanya ditolak. Cahaya Agung yang pernah lahir di abad lalu adalah Mahatma Gandhi. Lagi-lagi ia bercerita tentang keindahan rasa sakit.
Ringkasnya, siapa saja yang sujud di depan rasa sakit, menggunakan rasa sakit sebagai alat untuk menyempurnakan cinta, mengalami keterhubungan secara spiritual, di sana akan menemukan wajah kehidupan sebagai sumur belas kasih. Bagi orang-orang seperti ini, air suci (tirtha) dari luar tidak lagi diperlukan. Secara lebih khusus karena sudah mengalami manasa tirtha (air suci yang dipercikkan di kedalaman bathin).
Penulis: Gede Prama
Photo Courtesy: Twitter@ImanNaim

TIRTA KEDAMAIAN
 

Sebagian sahabat yang hidupnya sangat rumit kemudian bertanya, kemana saya mesti berlindung? Mirip dengan anak-anak muda yang mengalami masalah dengan komputernya, tatkala mereka tidak lagi bisa memperbaikinya, kemudian mereka minggir dari kursi, serta membiarkan kakaknya yang lebih tua untuk membetulkan.
Dengan cara yang sama, kapan saja kehidupan sudah sangat rumit, semua jalan keluar sepertinya menabrak tembok, belajar minggir dari kursi pikiran, kemudian biarkan Buddha (baca: kejernihan) di dalam diri yang mengambil alih persoalan.
Meminjam hasil studi para sahabat di neuroscience yang mendalami otak manusia. Beratnya otak hanya dua persen dari seluruh berat tubuh, tapi otak mengkonsumsi sekitar dua puluh persen dari semua energi yang diperlukan tubuh. Ini dalam keadaan normal. Saat kehidupan sangat rumit, otak mengkonsumsi energi tubuh bahkan lebih banyak lagi.
Penemuan ini bisa dibenarkan di sesi-sesi meditasi. Setiap kali berjumpa para sahabat dengan penyakit berat, terlihat sekali kalau mereka berpikir terlalu banyak. Semakin keras mereka berfikir, di satu sisi energi tubuh diambil lebih banyak lagi oleh otak, di lain sisi energi tubuh yang bisa dialokasikan untuk unsur tubuh yang lain menjadi berkurang. Akibatnya mudah ditebak, semakin hari mereka semakin sakit.
Belajar dari sini, kapan saja kehidupan sudah demikian rumit, layak direnungkan untuk minggir dari kursi pikiran, kemudian izinkan kejernihan yang menyelesaikan persoalan. Dalam bahasa meditasi, apa pun yang muncul dalam kekinian, saksikan saja. Ia mirip dengan berdiri di pinggir sungai, biarkan sungai pikiran dan perasaan mengalir. Anda adalah sang saksi. Ini sering disebut dengan praktik kesadaran.
Sederhananya, ada tiga bentuk kesadaran yakni kesadaran indra (melihat, mendengar, mencium, mengecap), kesadaran pikiran lengkap dengan salah-benar, buruk-baik, serta kesadaran terpendam. Sigmund Freud menyebutnya alam bawah sadar. Carl G. Jung menyebutnya sang bayangan.
Melalui praktik menyaksikan, seseorang sedang meninggalkan kesadaran indra dan kesadaran pikiran yang sangat di permukaan, kemudian pelan perlahan memasuki kesadaran terpendam. Awalnya indra dan pikiran melawan. Ketakutan, keraguan adalah sebagian bentuk perlawanan mereka. Tapi tidak ada pilihan lain, biarkan mereka mengalir dengan sungainya masing-masing, tugas meditasi hanya menyaksikan.
Ia yang praktik meditasinya mendalam mengalami, begitu sungai indra dan sungai pikiran hanya disaksikan, lama-lama kehidupan di dalam mirip dengan kolam tenang dan jernih. Semuanya terlihat terang benderang. Fisikawan besar Stephen Hawking menulis: “quiet people have the loudest mind”.
Di saat seperti itulah kejernihan mengambil alih kerumitan. Dan tiba-tiba jalan keluar, solusi, bantuan datang dari banyak arah yang sama sekali tidak terbayang sebelumnya. Lebih dari itu, ia yang kejernihannya sangat dalam bahkan bisa mengalami manasa tirtha (air suci yang dipercikkan di kedalaman bathin).
Sementara sebagian orang pergi sangat jauh untuk mencari air suci (tirtha), bahkan ada yang sampai menjual tanah dan sawah, orang yang sudah menemukan kolam kejernihan di dalam akan tersenyum membaca pesan ini: “hati adalah tempat suci. Cinta adalah tirtha”. Inilah tirtha kedamaian.
Penulis:  Guru Gede Prama
Photo Courtesy: Twitter @Viken_shrestha

Kamis, 31 Oktober 2013

Rumah Bidadari

 RUMAH BIDADARI


Di banyak tempat di muka bumi, terjadi defisit sukacita yang amat menyedihkan. Yang membuat kehidupan berwajah mendung menyedihkan. Rumah sakit, rumah sakit jiwa, keluarga yang terkena musibah perceraian, kemacetan, anak-anak korban perkosaan, birokrasi yang ditandai oleh korupsi, dunia korporasi penuh konflik, semua membuat kehidupan rindu mendalam akan sukacita
Anda Bukan Korban
Ciri utama manusia yang defisit sukacita, selalu menyebut diri sebagai korban. Dari korban ketidakdewasaan orang tua, korban ketidakmatangan pasangan hidup, korban sekolah yang liar. Digabung menjadi satu, orang lain diletakkan sebagai sumber penderitaan, dirinya sendiri sebagai korban.
Yang lebih menyedihkan lagi, rasa dikorbankan ini kemudian ditumpahkan ke orang lain dalam bentuk kemarahan, kebencian, ketidakpuasan. Dan tidak ada orang lain yang mau menerima tumpahan sampah emosi ini. Sehingga jadilah kehidupan seperti api yang berjumpa api. Ia menjadi awal banyak sekali kebakaran yang membuat bumi miskin sukacita.
Bila boleh jujur, tidak ada di antara kita yang lahir dari orang tua yang sempurna, memiliki pasangan hidup atau sekolah yang sempurna. Semua manusia memiliki cacat masa lalu. Bila orang biasa dilukai oleh cacat masa lalu, para bidadari (angels) menggunakannya sebagai tanda-tanda perjalanan.
Rahim Bidadari
Belajar dari kisah orang suci dari Nelson Mandela, Bunda Teresa hingga Mahatma Gandhi, semua orang suci lahir dari rahim yang bernama penderitaan. Nelson Mandela dipenjara selama 27 tahun, Bunda Teresa hidup di tengah kemiskinan yang menyengat, Mahatma Gandhi bahkan wafat dengan cara ditembak orang.
Pesannya sederhana, rasa sakit, penderitaan hanya cara Sang Hidup untuk melahirkan energi kasih sayang yang ada di dalam diri. Makanya, seorang sahabat yang sembuh dari guncangan emosi yang dahsyat sekali pernah bercerita. Di puncak guncangan, tiba-tiba ia ingat mimpi-mimpinya di masa kecil. Terbang di atas awan, menyaksikan penderitaan di planet ini, kemudian memilih lahir di keluarga yang berantakan agar bisa mengerti penderitaan secara mendalam.
Setelah lewat dari guncangan yang berumur puluhan tahun, baru bayi bidadari lahir dari rahim penderitaan. Untuk kemudian membuka pintu kehidupan yang baru, yakni menolong, melayani makhluk menderita dengan jalan masing-masing.
Makanan Dan Minuman Bidadari
Bagi tiap jiwa yang sudah pernah melewati rahim penderitaan dalam waktu yang lama, kemudian timbul rasa lapar dan haus untuk menolong dan menolong. Bila orang biasa menolong karena kewajiban, bidadari menolong karena itu menu makanan dan minuman sehari-hari.
Serupa orang biasa yang lapar dan haus, para bidadari senantiasa lapar dan haus menolong. Ini yang menjelaskan kenapa Bunda Teresa aman nyaman sekali di tengah kacaunya kota Kalkuta, Nelson Mandela aman nyaman sekeluar dari penjara tanpa menggendong rasa dendam, Mahatma Gandhi masih sempat memanggil nama Tuhan saat peluru panas menembus tubuhnya.
Sederhananya, ia yang melewati rahim penderitaan, memakan dan meminum menu pertolongan, semuanya sedang membuat bumi ini sebagai rumah bidadari. Defisit energi sukacita di muka bumi ini, diseimbangkan melalui ketulusan dan keikhlasan mereka. Bidadari ini tidak saja menyembuhkan orang lain, juga membuat jiwanya semakin dewasa.
—————–
Catatan:
1. Bagi setiap sahabat yang sedang digoda rasa sakit, disarankan untuk membangunkan energi kesembuhan yang berasal dari dalam diri. Caranya, maafkan masa lalu, terima masa kini. Di puncak semuanya, lihat semuanya dengan mata sukacita.
2. Setelah bibit kesembuhan ini ditanam di dalam, kemudian sirami dengan visualisasi kreatif. Bukan mengada-ada, memang sudah dicatat rapi dalam kisah para suci, penderitaan membangunkan energi kasih sayang di dalam diri. Setelah melalui rahim penderitaan, sembuh oleh memaafkan dan penerimaan, kemudian belajar membayangkan diri Anda sebagai seorang bidadari yang datang ke sini untuk berbagi energi sukacita.
3. Bangkitkan tekad kuat untuk menolong. Jika Anda penulis, menulis dengan niat menolong. Bila Anda seorang Ibu, rawat anak-anak seperti merawat bayi bidadari. Jika Anda orang kaya, sumbangkan sebagian kekayaan untuk beasiswa anak-anak keluarga miskin. Dengan cara ini, tidak saja Anda bisa sembuh, juga membuat jiwa semakin dewasa. Di atas semuanya, Anda adalah bagian dari upaya untuk membuat bumi ini menjadi rumah bidadari.
English Note: English Note: English speaking friends, the messages that flowing through me can be accessed in twitter: @gede_prama or website: www.gedepramascompassion.com

Pohon Kepuh

 Pohon Kepuh (Pranajiwa)

Di Indonesia, terutama di Jawa dan Bali, pohon kepuh (Sterculia foetida) sering kali dijumpai tumbuh di daerah-daerah angker dan keramat seperti punden, kuburan, dan tempat-tempat yang jarang didatangi manusia. Lantaran tempat hidupnya dan ukuran batang serta bentuk buahnya, pohon kepuh acapkali dianggap sebagai pohon bagaspati.

Namun dibalik mitos yang angker sebagai tanaman bagaspati, pohon kepuh ternyata memiliki berbagai manfaat. Hampir semua bagian tanaman dari kulit batang, daun atau buah dan bijinya sering dimanfaatkan sebagai campuran jamu. Kulit pohon dan daun dapat digunakan sebagai obat untuk beberapa penyakit antara lain rheumatic, diuretic, dan diaphoretic. Kulit buah Kepuh juga dapat digunakan sebagai bahan ramuan untuk membuat kue dan bijinya dapat dimakan.

Kayu pohon kepuh atau pranajiwa dapat digunakan sebagai konstruksi bangunan, bahan pembuat kapal, kotak kontainer, dan kertas pulp. Biji kepuh mengandung minyak nabati yang terdiri atas asam lemak (asam sterkulat) yang dapat dimanfaatkan sebagai ramuan kosmetik, sabun, shampo, pelembut kain, pewarna alami, dan plastik.

Asam lemak minyak Kepuh juga dapat digunakan sebagai zat adaptif biodiesel (biofuel). Bahkan beberapa masyarakat sejak dulu telah mengolah biji kepuh untuk diambil minyaknya, yang berguna sebagai minyak lampu, maupun minyak goreng.

Sekarang tergantung kita, tetap mau menganggap kepuh (Sterculia foetida) sebagai pohon Bagaspati yang menyeramkan atau tumbuhan dengan berbagai manfaat mulai obat-obatan, kosmetik, hingga bahan biofuel?.
 

Senin, 10 Juni 2013

Cahaya Sempurna

Cahaya Sempurna

 

Sejarah manusia adalah sejarah harapan dan kekecewaan. Dari dulu manusia berharap agar kehidupan damai, penuh kasih sayang. Tapi yang terjadi, GA Buddha Shakyamuni pernah diracun, Yesus Kristus disalib, Mahatma Gandhi ditembak. Di zaman kita, Pakistan marah sama India, India tidak rukun dengan China, Iran membenci Israel, Israel memperlakukan Palestina secara tidak manusiawi. Semuanya menjalin kegelapan-kegelapan kekecewaan.

Hening Bening
Daftar Guru boleh diperpanjang, ilmu pengetahuan dan teknologi boleh semakin canggih, tapi sejarah tidak berubah. Makanya, seorang sahabat pemimpin redaksi sebuah majalah spiritual di Bali - setelah gemas memberitakan terlalu banyak konflik - pernah bertanya tidak sabar: adakah solusi? Sejujurnya, sifat alamiah setiap ciptaan selalu berpasang-pasangan. Serupa siang berpasangan dengan malam, batu keras berpasangan dengan air lembut di sungai. Dianalisis maupun tidak, memang demikianlah adanya. Bahkan tatkala zaman melahirkan nabi pun - contoh kisah Sang Rama dengan Rahwana - tetap sepasang ciptaan lahir. Orang India menyebut Sang Rama benar, orang Srilanka meyakini Rahwana yang benar. Dalam bahasa tetua Bali: nak mula keto (memang demikianlah adanya).

Setiap penggali ke dalam diri yang sudah melewati banyak lumpur, kemudian bertemu sumur hening bening mengerti, sifat alamiah ciptaan yang berpasang-pasangan di luar (baca: tatkala belum digali) kelihatannya seperti bertentangan. Ini yang menyebabkan banyak manusia awam yang stres karena menabrakkan benar dengan salah. Segelintir manusia bahkan berani membunuh karena merasa diri benar dan orang lain salah. Tapi di kedalaman yang dalam, kedua pasangan ini saling membutuhkan. Orang baik sesungguhnya membutuhkan orang jahat, karena ada orang jahat maka orang baik dihormati. Menghancurkan salah satu unsur pasangan - contohnya melenyapkan kejahatan sepenuhnya - sama dengan menghancurkan kebaikan. Bila kejahatan tiada, kebaikan lenyap karena tanpa pembanding.

Itu sebabnya Guru spiritual tingkat tinggi matanya bebas penghakiman, sikapnya seperti bulan purnama yang menerangi tanpa membeda-bedakan. Terutama karena sudah menggali, keduanya saling membutuhkan, keduanya saling menerangi. Disamping itu, beda antara baik-buruk hanya setipis sehelai rambut. Dalam putaran waktu yang panjang kerap terlihat, musibah di suatu hari bisa jadi berkah di waktu lain, teman dalam satu kehidupan berubah jadi lawan di kehidupan lain. Itu sebabnya, banyak sahabat meditasi yang sudah menangkap esensinya kemudian berterimakasih sekali dengan obat S3 (senyum senyum saja). Meminjam Rumi, semua dikirim sebagai pembimbing dari sebuah tempat yang tidak terbayangkan. Inilah buah meditasi, batin yang hening bening.

Guru Sebagai Cahaya
Sebagian sahabat yang sudah hening bening kadang bertanya: kenapa alam kerap memberi tanda berupa cahaya? Sederhananya, ia yang di dalamnya cahaya (serupa sintesis positif-negatif yang menghasilkan cahaya) bisa melihat cahaya di mana-mana, ia yang di dalamnya kegelapan melihat kegelapan di mana-mana. Itu sebabnya, di semua agama tersedia berlimpah pencari cahaya. Di Islam disebut Nur, di Hindu disebut Teja, di Buddha ada yang memberi nama Jiyoti, di Gereja kerap terdengar pesan “I am the Light“. Berbagai pendekatan yang tersedia untuk menjumpai sang Cahaya.

Eiji Yoshikawa (dalam karya agung berjudul Musashi) bertutur terang tentang perjalanan menemukan kesempurnaan di jalan samurai. Tangga perjalanan berturut-turut dimulai dengan tanah, air, api, angin, langit, bulan purnama dan matahari, serta puncak perjalanannya disebut Cahaya Sempurna. Serangkaian tangga-tangga rahasia yang menggetarkan. Tangganya berjumlah tujuh, awalnya tanah berevolusi menjadi air, api, angin, langit, kemudian langit berhiaskan cahaya bulan purnama dan matahari, puncaknya baru Cahaya Sempurna.

Sejujurnya, setiap pencari Cahaya Sempurna itu unik. Dalam kisah Musashi, ia dimulai dengan seorang manusia dengan kekuatan otot yang mengagumkan. Berulang-ulang dalam perjalanannya, calon samurai ini diingatkan oleh Guru hidup, Guru simbolik, Guru buku suci maupun Guru rahasia: “salah besar menganggap bahwa kekuatan adalah satu-satunya modal untuk menemukan kesempurnaan”. Untuk itulah, Musashi tekun mendidik dirinya agar semakin lembut dan semakin lembut.

Tidak mudah merubah kekuatan otot menjadi kelembutan hati. Musashi pernah diikat di atas pohon berhari-hari oleh Gurunya. Pernah dimasukkan ke ruang perpustakaan selama tiga tahun. Berkali-kali bertatapan langsung dengan maut melalui pertempuran yang membawa resiko mati. Musashi bahkan sempat frustrasi sehingga mengejar seorang Guru zen. Di puncak frustrasinya, ia sujud hormat ke kaki Gurunya, dan Gurunya hanya menggambar lingkaran sempurna (mandala) di tanah. Itu pun bukan akhir perjalanan, terutama karena mandalanya belum membadan. Agar mandalanya membadan, Musashi menghabiskan banyak waktu di alam terbuka seperti mendaki puncak gunung sendiri, berendam di sungai yang teramat dingin, mengolah tanah tandus menjadi lahan subur. Dan yang paling penting keras sekali mendidik diri untuk semakin baik hati sekaligus rendah hati.

Puncak kelembutan tercapai beberapa saat sebelum melakukan pertarungan tingkat tinggi melawan Sasaki Kojiro. Berbeda dengan samurai umumnya yang mau bertarung kemudian mempersiapkan pedang dan lembing, Musashi hening bening melukis gambar alam, di perahu dalam perjalanan menuju tempat pertarungan ia mengukir kayu sebagai tanda menyatu sempurna dengan mandala. Sebagaimana lingkaran sempurna sebagai lambang mandala, ia tanpa awal tanpa akhir. Kelahiran bukan awal, kematian bukan akhir. Kemenangan bukan musuhnya kekalahan, keduanya berputar silih berganti. Semuanya mengalir melukis kesempurnaan yang sama. Dan begitu pertarungan terjadi, Musashi kesurupan, tidak bisa memisahkan mana langit mana bumi, mana kawan mana lawan, mana diri mana bukan diri. Dalam bahasa spiritual, pengalaman ini dikerangkakan dengan purification, perfection, union. Diawali dengan memurnikan diri dari segala bentuk penghalang. Murni dari penghalang berupa kualitas-kualitas negatif, murni juga dari segala bentuk pengetahuan yang datang dari luar. Dilanjutkan dengan menyempurnakan kualitas positif seperti kasih sayang (compassion). Kemudian baru mungkin lahir pengalaman kebersatuan. Dalam kebersatuan inilah semua pasangan - termasuk diri-musuh, menang-kalah, langit-bumi - berpelukan saling menerangi. Akibatnya hanya dalam beberapa gerakan lawannya tumbang. Begitu lawannya tumbang, baru sadar bahwa dirinya Musashi.

Dalam bahasa yang lebih mudah dicerna, pemurnian adalah langkah awal. Ia diwakili angka nol. Angka nol ini lebih sempurna lagi tatkala ia dimaknakan sebagai sesuatu yang tidak saja bebas dari energi negatif, tapi juga bisa memadukan positif-negatif (baca: kesempurnaan). Sebagai akibatnya, angka nol tidak menjadi wakil kehidupan yang pasif apatis tapi juga memancarkan cahaya. Sebagaimana bulan purnama dan matahari yang secara alamiah memancarkan cahaya, ia yang sampai di sini secara alamiah memancarkan cahaya belas kasih (compassion). Dan belas kasih yang sempurna itulah menjadi sebuah pengalaman kebersatuan (baca: angka satu). Akibatnya, sebagaimana bilangan-bilangan dalam matematika, hidup pun bergerak dinamis antara angka nol dan angka satu.

Dan salah satu jembatan agar menyatu dengan Cahaya Sempurna bernama Guru Yoga. Sejenis praktik spiritual mendalam agar seorang murid menyatu dengan Guru (Guru hidup, Guru buku suci, Guru simbolik dan Guru rahasia). Berkaitan dengan praktik Guru Yoga, waktu paling magis melakukan Guru Yoga adalah tatkala bulan purnama tenggelam di barat, matahari terbit di timur, saat itulah cahaya sempurna berupa Guru*) dijunjung. Cahaya absolut diwakili matahari, cahaya relatif diwakili bulan purnama, di atas keduanya muncul Guru hidup sebagai manifestasi Cahaya Sempurna. Bila Cahaya Sempurna itu bertubuhkan dewa misalnya, manusia akan sulit menerima pelajaran karena alam dan bahasanya berbeda. Oleh karena itu, di Tantra Tibet Guru hidup berbadankan manusia dijunjung sebagai Cahaya Sempurna karena di tubuh itu Cahaya Sempurna bisa dimengerti dengan bahasa dan logika manusia. Ini sebabnya, Musashi sangat menghormati Guru hidup seperti Takuan Soho. Tidak mungkin keluar dari terowongan gelap tanpa bantuan cahaya. Ia sama tidak mungkinnya dengan membadankan Cahaya Sempurna tanpa bantuan Guru. Kadang ada yang bertanya, apa ciri Guru yang telah membadankan Cahaya Sempurna? Salah satunya, sudah membadankan ternyata panca kilesha (ketidaktahuan, kemarahan, kesombongan, nafsu dan iri) yang dibenci semua orang awam, adalah Panca Dhyani Buddha (Vairochana, Aksobya, Ratnasambhawa, Amitaba, Amogasiddhi). **) Bila kemarahan dan kesombongan saja sudah terlihat mewakili kesempurnaan, tentu mudah menemukan kesempurnaan dalam hal-hal baik.

Dalam bimbingan cahaya sempurna seperti inilah, kemudian sejarah berhenti hanya berisi harapan dan kekecewaan. Kehidupan kemudian berhiaskan S3 (senyum senyum saja). Di dalam ia hening bening, di luar ia bergerak mewakili kesempurnaan kasih sayang (compassion) yang sama.

http://gedeprama.blogdetik.com